BROYUSRAN -- Kemiskinan bukan sekadar kondisi ekonomi, ia bisa berubah menjadi alat. Ketika kemiskinan tidak hanya terjadi, tetapi dipelihara, maka yang lahir bukan sekadar ketimpangan, melainkan ketergantungan. Di titik inilah sebagian oknum politisi menemukan ruang bermainnya.
Realitasnya, masih ada pola yang berulang: bantuan datang menjelang momentum politik, janji digelontorkan saat suara dibutuhkan, lalu perlahan menghilang ketika kekuasaan sudah digenggam. Masyarakat yang berada dalam kondisi rentan seringkali tidak punya banyak pilihan selain menerima. Bukan karena mereka tidak ingin mandiri, tetapi karena sistem yang seharusnya mengangkat justru tidak cukup kuat untuk menopang.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kemiskinan itu menjadi nyaman bukan dalam arti sejahtera, tetapi terbiasa. Bantuan dianggap solusi utama, bukan jalan sementara. Ketika pola ini terus berlangsung, masyarakat tanpa sadar diposisikan sebagai objek, bukan subjek pembangunan. Mereka hanya hadir saat dibutuhkan, lalu dilupakan saat tak lagi menguntungkan.
Oknum politisi yang memanfaatkan situasi ini paham betul bahwa ketergantungan adalah kunci. Semakin bergantung seseorang, semakin mudah diarahkan. Hak pilih yang seharusnya menjadi kekuatan justru melemah karena dibungkus dengan kebutuhan sesaat.
Padahal, kemiskinan tidak seharusnya diwariskan, apalagi dipelihara. Ia harus dilawan dengan akses pendidikan, peluang usaha, dan kebijakan yang berpihak pada kemandirian. Masyarakat perlu didorong untuk berdiri di atas kaki sendiri, bukan terus-menerus disuapi.
Kesadaran kolektif menjadi penting. Bahwa setiap bantuan harus dilihat sebagai jembatan, bukan tujuan akhir. Bahwa memilih pemimpin bukan soal siapa yang paling banyak memberi saat ini, tetapi siapa yang mampu menciptakan perubahan jangka panjang.
Jika tidak, kita hanya akan terus berputar dalam lingkaran yang sama menjadi sasaran empuk setiap musim politik. Dan pada akhirnya, bukan kemiskinan yang hilang, tetapi harapan yang perlahan memudar.
Sudah saatnya kita berhenti memelihara kemiskinan, sebelum kemiskinan itu terus dimanfaatkan untuk memelihara kekuasaan.

Posting Komentar