![]() |
| Muh. Yusran Hadysurya, S.T. (BRO YUSRAN) |
BROYUSRAN -- Konsep Smart City kerap dipromosikan sebagai simbol kemajuan sebuah daerah. Pemerintah berlomba menghadirkan aplikasi layanan publik, CCTV di berbagai sudut jalan, hingga sistem digital yang diklaim mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi. Di atas kertas, semua terlihat menjanjikan. Namun, pertanyaannya: apakah daerah itu benar-benar menjadi “lebih pintar”, atau sekadar terlihat lebih modern?
Dalam praktik kebijakan, Smart City sering kali terjebak pada pendekatan yang terlalu teknokratis. Fokusnya lebih pada pengadaan teknologi, bukan pada penyelesaian masalah mendasar masyarakat. Padahal, daerah yang “cerdas” seharusnya bukan hanya soal digitalisasi layanan, tetapi bagaimana kebijakan mampu menjawab kebutuhan riil warga mulai dari kemacetan, pendidikan, kesehatan, pengelolaan sampah, hingga akses air bersih.
Ada kecenderungan bahwa program Smart City dijadikan proyek prestise. Pemerintah bangga meluncurkan aplikasi baru, tetapi minim sosialisasi dan integrasi. Akibatnya, banyak aplikasi yang akhirnya tidak digunakan secara optimal oleh masyarakat. Lebih ironis lagi, tidak sedikit warga yang justru kesulitan mengakses layanan tersebut karena keterbatasan literasi digital.
Di sisi lain, transparansi dan partisipasi publik ke dua hal ini yang seharusnya menjadi ruh Smart City sering kali belum berjalan maksimal. Teknologi hanya menjadi alat, bukan tujuan. Tanpa keterbukaan data dan ruang partisipasi yang nyata, konsep ini berisiko menjadi sekadar jargon kebijakan.
Smart City yang ideal seharusnya menempatkan manusia sebagai pusatnya (human-centered). Teknologi hadir sebagai solusi, bukan sekadar simbol kemajuan. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap inovasi benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat, bukan hanya mempercantik laporan kinerja.
Pada akhirnya, daerah yang cerdas bukanlah daerah dengan aplikasi terbanyak, melainkan daerah yang mampu memahami dan melayani warganya dengan lebih baik. Jika tidak, Smart City hanya akan menjadi label bukan solusi.
Smart City bukan tentang seberapa banyak teknologi dan aplikasi yang dimiliki, tapi seberapa besar kebijakan benar-benar memudahkan hidup warganya.

Posting Komentar