![]() |
| Muh. Yusran Hadysurya, S.T., (BRO YUSRAN) |
BROYUSRAN -- Setiap tahun, menjelang Idulfitri, satu hal yang hampir pasti terjadi di Indonesia adalah perbedaan penentuan 1 Syawal. Tahun 1447 H bukan pengecualian. Lagi-lagi, umat dihadapkan pada dua pilihan: ikut keputusan pemerintah atau mengikuti organisasi keagamaan masing-masing.
Di satu sisi, ini adalah hal yang wajar. Perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal) sudah ada sejak lama. Ini bukan konflik baru, dan bukan pula tanda kegagalan umat. Justru ini menunjukkan bahwa Islam memberi ruang pada ijtihad dan pendekatan ilmiah yang beragam.
Namun, yang menjadi persoalan bukan lagi pada perbedaan itu sendiri. Masalahnya muncul ketika perbedaan berubah menjadi bahan perdebatan yang tidak sehat, bahkan saling menyalahkan. Di titik inilah kita perlu jujur, apakah ini masih soal metode, atau sudah masuk ke wilayah ego dan fanatisme ?
Sebagian orang menganggap metode yang mereka anut adalah yang paling benar, tanpa mau memahami bahwa masing-masing pendekatan memiliki dasar ilmiah dan dalil yang kuat. Hisab menawarkan kepastian berbasis perhitungan modern, sementara rukyat menekankan pada praktik langsung sebagaimana dicontohkan dalam tradisi klasik.
Ironisnya, di era teknologi yang serba canggih, kita justru masih kesulitan menyikapi perbedaan dengan dewasa. Media sosial memperparah keadaan. Setiap perbedaan keputusan langsung viral, disertai komentar yang kadang lebih emosional daripada rasional.
Padahal, jika ditarik lebih dalam, esensi Idulfitri bukanlah tentang siapa yang lebih dulu merayakan. Idulfitri adalah momentum kembali ke fitrah membersihkan hati, memperbaiki hubungan, dan merajut kembali persaudaraan.
Perbedaan 1 Syawal seharusnya menjadi ruang pembelajaran, bukan ajang pembelahan. Negara melalui sidang isbat sudah berupaya menjadi titik temu, sementara organisasi keagamaan juga punya dasar kuat dalam menentukan sikapnya. Keduanya tidak perlu dipertentangkan secara berlebihan.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan metodenya, tetapi cara kita menyikapinya. Karena pada akhirnya, yang lebih penting dari keseragaman tanggal adalah kesatuan hati.
Jadi, ketika tahun ini ada yang berlebaran lebih dulu dan ada yang sehari setelahnya, tidak perlu dipermasalahkan secara berlebihan. Silakan menjalankan keyakinan masing-masing, tapi tetap jaga saling menghormati.
Karena Idulfitri bukan tentang tanggal yang sama, tapi tentang rasa yang sama: saling memaafkan.
Perbedaan 1 Syawal itu wajar, tapi mempertahankan ego seolah paling benar itulah yang merusak makna Idulfitri.

Posting Komentar