BROYUSRAN -- Ramadan selalu mengajarkan banyak hal tentang menahan diri, menguatkan hati, dan memperluas kepedulian. Namun, hari itu saya belajar satu hal lagi: bahwa memberi tidak selalu harus menunggu dalam kondisi paling nyaman.
Bertempat di Kantor PMI Kota Parepare, pada Kamis, 26 Februari 2026, di tengah puasa yang sedang dijalani dan tubuh yang belum menerima setetes air sejak sahur, saya memutuskan untuk mendonorkan darah. Ada yang bertanya, “Kuat?” atau “Tidak apa-apa saat puasa?” Bahkan saya sendiri sempat ragu. Namun, niat untuk membantu sesama jauh lebih besar daripada rasa khawatir itu.
Saat jarum kecil itu menyentuh lengan, saya tidak melihatnya sebagai kehilangan, tetapi sebagai bentuk kepedulian. Setiap tetes darah yang mengalir bukan sekadar cairan merah, melainkan harapan bagi seseorang di luar sana yang sedang berjuang untuk hidup.
Puasa mengajarkan kita menahan diri, dan donor darah mengajarkan kita untuk berbagi. Setelah selesai, tubuh memang terasa sedikit lemah, tetapi hati terasa jauh lebih kuat dan tenang. Saya sadar, mungkin ini hal kecil, tetapi bisa berarti besar bagi orang lain.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memberi dan peduli. Karena pada akhirnya, setetes darah yang kita berikan bisa menjadi bukti bahwa kita masih memiliki empati, dan bahwa memberi justru membuat kita merasa lebih hidup.

Posting Komentar